Kinerja BEI Semester I Menggembirakan

July 31, 2008

Kamis, 31 Juli 2008

JAKARTA, KAMIS - Meski indeks transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat terkoreksi dampak kasus kredit perumahan (subprime mortgage) di AS dan naiknya harga minyak dunia, kinerja BEI selama semester I-2008 cukup menggembirakan. “Performansi selama semester I-2008 bagus. Bahkan, transaksi harian pada Selasa (29/7) mencapai Rp 5,4 triliun,” ujar Dirut BEI Erry Firmansyah disela Diklat Pasar Modal untuk Notaris di Surabaya, Kamis (31/7).

Ia menjelaskan, transaksi itu meningkat sekitar 25 persen dibandingkan dengan rata-rata transaksi tahun lalu yang sebesar Rp 4,2 triliun per hari. Target emiten yang tercatat sebanyak 30 hingga akhir tahun, saat ini sudah 16 emiten yang listing, 9 emiten dalam proses, dan 5 lainnya diharapkan bisa dicatatkan pada akhir tahun ini.

Meski tanpa merinci, Erry mengakui bahwa untuk obligasi terjadi penurunan. Penurunan itu diduga dampak tingginya tingkat suku bunga perbankan, sehingga investor memanfaatkan media investasi lain. “Target mungkin tidak terpenuhi. Karena itu, kemungkinan akan ada perubahan target, dari 52 emiten yang ditargetkan, sekarang baru 20 issuer. Hal itu karena tingkat suku bunga yang cukup tinggi,” katanya.

Namun demikian, ia mengatakan bahwa untuk obligasi pemerintah, baik itu Surat Utang negara (SUN) maupun ORI, masih bagus. Respons masyarakat baik karena tidak ada resiko. Karena itu, ia optimistis surat utang berbasis syariah (Sukuk) yang akan diluncurkan Agustus dan ORI-5 pada September mendatang akan diminati masyarakat.

Sementara itu, saat memberi sambutan dihadapan 70 notaris peserta Diklat, ia mengakui bahwa pergerakan transaksi di bursa sejak terjadinya kasus kredit perumahan di AS (subprime mortgage) dan kenaikan harga minyak dunia, cukup dinamis (volatile). Volatile adalah istilah yang umum digunakan dalam perdagangan untuk merujuk pada suatu perubahan, utamanya perusahan harga, yang cukup cepat. Secara statistika biasanya derajat volatilitas terefleksi pada perubahan yang menjauhi angka rata-ratanya dalam periode tertentu.

Akibat dampak subprime mortgage dan naiknya harga minyak dunia, indeks saham di BEI sempat rekoreski 17-18 persen. Tingkat volatilitas yang tinggi diperkirakan akan masih berlanjut seiring dengan naiknya harga pangan dunia. “Harga pangan perlu diwaspadai karena bisa berdampak pula terhadap bursa,” tutur Erry.

Sumber : Ant

Post a Comment

Get my banner code or create a flash banner

© 2010 - Info Reksadana

Powered by WordPress
Designed by Shops UK
Blog Tools
Registrar Codes
XHTML Valid